Dalam sepenggal tulisan yang lalu telah diulas secara sederhana Aliran Data Di Tingkat Korkot. Dan kali ini masih berkutat seputar retorika Proses Rekam Lapang.
Memang benar dan sangat tepat, ketika Sistem Informasi Manajemen menjadi “pintu Utama” bagi mengalirnya sebuah informasi untuk disebarkan bagi yang berkepentingan (pelaku PNPM) sebagai jaminan untuk menjaga kualitas data tentunya. Dengan demikian diharapkan pergeseran referensi data bisa diminimalisir secara optimal.
CAPTURING KEGIATAN DI TINGKAT LAPANG
Pelaksanaan Kegiatan di tingkat lapang dicitrakan oleh Tim Fasilitator dengan menuliskan kegiatan pada FORM BANTU SIM dengan melihat sumber bukti ( Berita Acara, Daftar Hadir dan Notulensi).
![]() |
| Proses Rekam Kegiatan Lapang |
Kemudian FORM BANTU SIM dicetak dengan pengesahannya untuk di serahkan ke KORKOT – Soft File di berikan ke Asmandat Korkot. Dengan dilaporkannya kegiatan di lembar Quick Status, maka 2 (dua) minggu setelah kegiatan dinyatakan selesai dilaksanakan menjadi Batas Maksimal dilaporkannya data versi SIM PM-nya.
Tentu saja banyak versi terhadap mekanisme tersebut. People Habit, Pola Pendampingan, Tenggat Waktu dan kriteria lain-lain nya. Beberapa himpunan data menunjukkan bahwa konsistensi data menjadi hal yang diperhatikan oleh TF dalam menghargai proses di tingkat lapang . Sebagai bagian yang bertanggung jawab terhadap Sebaran Informasi di lingkungan kerja tentulah – Asisten Manajemen Data dituntut untuk memenuhi role play dilingkungan internal atau eksternal.
Dalam salah satu bidang Informasi PM (Pemberdayaan Masyarakat) terdapat indikator yang perlu diperhatikan bagi suksesnya Pendampingan Pelaku. Lebih Populer dengan sebutan “ KPI” yang diposting di web report PNPM Mandiri Perkotaan.
Hmm… bukan capaian progres semata yang ingin diangkat dalam postingan kali ini. Namun lebih pada proses memotret data. Beberapa mengatakan “ yang penting terisi seluruhnya…”, ketika ditemukan inkonsistensi data malah berujar “yang paling update ya..yang terbaru itu” , ada juga yang menghargai terhadap kebenaran realita di tingkat lapang mengatakan “okay,…akan difailitasi di pertemuan warga nanti malam”.
Nah..Kalo versi SIM BLM-nya ?.... (Datanya di "Gentong")


inilah yang sebenarnya perlu kita pecahkan bersama, hal mencetak FORM BANTU SIM yang harapannya sebagai alat verifikasi dll secara berjenjang mulai Senior Fasilitator - Korkot yang sebenarnya "sederhana" kemudian menjadi hal "ribet" karena "biasanya" hanya berjalan sementara dan untuk periode selanjutnya seperti biasa "wah nyusul besok ya mas?".....walhasil "besok" menjadi "besoooooookkkkk"
BalasHapushehehhehehee...
Sebaiknya jangan dipecah Bung Hery ... nanti malah ada yang ketusuk pecahannya hehehe... (piss :) canda.com). Memang , kebiasaan untuk terbiasa membiasakan yang demikian harus diakui kesulitannya. "Tapi nek wis wayahe yo mesti kudu dipanteng...terinspirasi dari "undangan untuk SF" di blog: http://www.pamungkashery.co.nr/ :)". Mengutip ucapan Pak Drajad wakil dari Satker P2KP Pusat : "Paling tidak korelasi capaian kualitas dan kuantitatif terhadap pendekatan proyek atau pendekatan program cenderung positif..." hehehehe...
BalasHapuskira2 yg mudah itu seperti apa yach.. karena jangan sampai mudah itu menjadi "memudahkan" (seperti yg selama ini terjadi), namun benar2 mudah untuk tidak menjadi beban.
BalasHapus